Menjamin Air Bersih Tetap Mengalir di Salubomba
Posting : 20 November 2011        Pengunjung : 2547
 

Menjamin Air Bersih Tetap Mengalir di Salubomba
Sarana yang ada harus dikelola dengan baik. Jika tidak sanksi tak akan mendapat bantuan lagi akan diterima.

Membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada memang susah. Tapi ternyata lebih sulit lagi memeliharanya agar tetap berfungsi sebagai mana mestinya. Itulah yang dialami masyarakat Desa Salubomba, Banawa Tengah, Donggala, Sulawesi Tengah.

Nenek moyang masyarakat desa pesisir ini berasal dari Desa Kola-kola. Mulanya para pencari garam Desa Kola-kola mendirikan saung tempat melepas lelah. Lama kelamaan, seiring makin bertambahnya yang membuka lahan, termasuk lahan pertanian, mereka pun mulai membangun rumah untuk menetap di sana.

Atap rumah diambil dari pohon Bomba. Pohon-pohon itu sering tumbuh di sepanjang aliran air kecil yang dinamakan Salu. Dari situlah nama Salubomba diambil.

Kini ada sekitar 1300 penduduk yang hidup di desa seluas 48 km² ini. Layaknya desa yang berada di bibir pantai lainnya, air bersih merupakan sumber daya yang langka didapat.
Untuk mendapatkan air bersih, warga Salubomba terpaksa mengambilnya di sumber mata air yang ada di perbukitan. Jaraknya sekitar satu kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.Air kemudian ditampung di polemba –tadah air yang dibuat dari bambu berdiameter besar yang isinya bisa mencapai dua ember ukuran besar.

Kekurangan air bersih ditambah perilaku tidak sehat karena terbatasnya sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) menjadi Salubomba kumuh. Nah, begitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan hadir, kontan masyarakat Salubomba sepakat untuk
mengajukan proposal pengadaan air bersih. Disodorkanlah proposal pembangunan 10 MCK, satu imtek, saluran air sepanjang 3000 meter, bak penampung dan 10 tugu kran. Disiapkan pula rencana pelestarian kegiatan.

Disebutkan akan dibuat aturan bersama tentang pemanfaatan fasilitas sarana air bersih dan memberlakukan iuran rutin pada mereka yang menerima kucuran air bersih. Dana itulah yang rencananya akan digunakan untuk merawat fasilitas jika rusak. Selain itu dana dari iuran juga direncanakan untuk mengembangkan sarana air bersih.

Pada pertengahan 2009 rampunglah sarana air bersih itu. PNPM Mandiri Perdesaan memberikan bantuan sebesar Rp 287

juta. Adapun dana swadaya masyarakat Rp 4,275 juta. Tim pemelihara pun lantas dibentuk. Menurut Sapri, ketua TP3, sejak setahun

dimanfaatkan, beberapa kali kerusakan terjadi. “Saat musim hujan, pipanya ada yang patah. Selain itu juga handle kran sering rusak,” jelas Sapri. Masalahnya iuran yang sudah disepakati untuk pemeliharaan belum juga berjalan.

Tadinya disetujui bersama untuk memungut iuran sebesar Rp 5000 dari tiap rumah yang mendapat saluran air setiap bulannya. Saat ini ada 20 rumah yang menjadi penerima manfaat langsung air bersih PNPM. “Saat ini jika ada yang rusak, uang pribadi saya yang dipergunakan untuk memperbaikinya,” ujar Arsyad, ketua TPK Salubomba.

Mengapa iuran air bersih tak kunjung bisa ditagih? Rupanya aturan tentang iuran air bersih itu belum ada “legalitas”nya karena belum tertuang dalam peraturan desa. “Kami tidak tahu mengapa perdes tentang iuran itu tidak kunjung dibuat,” kata Arsyad pula.

Sementara itu ketika ditemui, Kepala Desa Salubomba Maswir Masmi berjanji akan segera menyusun peraturan desa tentang besarnya iuran dan kewajiban dan hak apa saja yang didapat dari para penerima manfaat air bersih.
Memang sejatinya sarana yang telah dibangun dijaga keberlangsungannya Jika sarana yang telah dibuat demi meningkatkan taraf hidup masyarakat itu terbengkalai dan bahkan hingga rusak tak lagi berfungsi, sanksi berat akan menghadang desa bahkan kecamatan untuk tidak mendapat dana bantuan PNPM Mandiri Perdesaan, pada tahun berikutnya.

Hasil yang diharapkan dari pelestarian itu adalah keberlanjutan proses dan penerapan sistem PNPM Mandiri Perdesaan dan pelaksanaan pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat.Selain itu juga diharapkan tumbuh rasa memiliki masyarakat terhadap hasil kegiatan yang telah dilaksanakan.

Lembaga kemasyarakatan di kecamatan dan desa juga harus didorong untuk ikut mendukung pelestarian sarana dan kegiatan. Lebih jauh peran fasilitator kecamatan dan kabupaten juga penting. Tidak hanya dalam teknik pemeliharaan tapi juuga menanamkan pemahaman mengenai pentingnya pemeliharaan, organisasi pengelolaan dan pemeliharaan.

Kita berharap masyarakat Salubomba bisa segera mengelola dan memelihara sarana air bersih yang telah ada demi keberlangsungan dan tercapainya standar kesehatan seperti yang diharapkan. Jika tidak, warga sendiri yang akan merugi. 

■HendrIko/IEC-NMC
 
 

“Jika sarana yang telah dibuat demi meningkatkan taraf hidup masyarakat itu terbengkalai dan bahkan hingga rusak tak lagi berfungsi, sanksi berat akan menghadang desa bahkan kecamatan untuk tidak mendapat dana bantuan PNPM Mandiri Perdesaan, pada tahun berikutnya“.



home gallery profile portfolio gallery home
TNP2K KEMENKOKESRA BAPPENAS KEMENKEU KEMENDAGRI WORLD BANK






Konsultan Manajemen Nasional Komp. Bungur Indah No.1, Jl. Bungur, Kemang Utara Jakarta 12730
Copyright 2012 pnpm-pedesaan.or.id. All rights reserved.