Akhir Pelarian Sang Buronan
Posting : 22 November 2011        Pengunjung : 5064
 

Akhir Pelarian Sang Buronan
Setelah dua tahun melarikan diri, Haryono yang diduga melarikan uang sebesar Rp920 juta ditangkap. Ia mengganti identitas diri untuk mengecoh banyak pihak.
Kamis 3 Februari 2011,  pukul 22.30. Di saat banyak orang telah terlelap, mimpi buruk Haryono dimulai. Ia disergap polisi di rumahnya yang mentereng.  Berakhir sudah upaya pelarian Haryono dari jerat hukum.  Tim gabungan dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Kepolisian Resor  Demak dan  Kepolisian Sektor  Mranggen membawanya ke rumah tahanan Polda Jateng.

Sudah dua tahun ini Haryono berstatus sebagai
salah orang yang paling dicari kepolisian Kalimantan Tengah.  Ia yang adalah fasilitator kecamatan Program Nasional Pemberdayaan

Masyarakat Mandiri Perdesaan di Tanah Siang, Kabupaten  Murung Raya, Kalimantan Tengah diduga menggelapkan dana sebesar kurang lebih Rp920 juta.

Keberadaannya sulit dilacak karena ia berpindah dan  mengganti idenitas. Terakhir, ketika dicokok polisi nama yang diakuinya adalah Bagas Hananto.  

Haryono- bersama tiga pelaku PNPM Mandiri Perdesaan lainnya pun masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Berita tentang mereka dimuat di harian Suara
Merdeka,  28 Januari 2011. Membaca berita itu, pada hari yang sama, seorang
pelaku PNPM-Mandiri Perdesaan Jateng  --tidak mau disebut namanya--  merasa mengenali seseorang yang mirip Haryono, tapi selama ini selalu memperkenalkan diri sebagai Bagas Hananto.
Pelaku program ini  bergegas mengirim pesan singkat pada Koordinator Provinsi Jawa Tengah: “...nama skrg: Bagas

hanantoro, permata Batursari Blok L 15 No. 25, Plamongan Indah. Sekarang masih di rumah kalo pagi jam 7 sampai jam 8 cuci mobil”. Begitu isi pesan singkat .

Kabar ini jelas mengejutkan. Tim SP2M Jateng pun langsung diperintahkan mengamati dan berkonsultasi dengan kepolisian. Korprov Jateng juga menghubungi Korprov Kalteng untuk mendapatkan Surat DPO serta berkoordinasi dengan kepolisian Kalteng.

Esoknya, Asisten SP2M  berkonsultasi ke Polda Jateng, dan juga mengamati rumah target.  Sementara SP2M mengumpulkan bukti-bukti ke Kabupaten Pati yang merupakan  daerah asal Haryono. Pengumpulan data juga dilanjutkan ke Kecamatan Mranggen, Demak, tempat tinggalnya sekarang. 
Berbekal bukti-bukti, tim Korprov Jateng melakukan koordinasi dengan Polda  Jateng, Polres Pati,  dan Polres Demak. Dari Muspika Winong, Pati dan Mranggen, Demak diperolah identitas lengkap tersangka  dan keluarganya.  Diketahui memang tersangka telah mengganti identitas dirinya menjadi Bagas Hananto.

Meski demikian Haryano tak bisa langsung ditangkap. Dibutuhkan birokrasi tertentu dan kesaksian yang kuat untuk sebuah penangkapan. Kepolisian meminta surat pengantar mohon bantuan penangkapan tersangka dari Polres Murung Raya, Kalimantan Tengah. Polisi juga tak mau menangkap Haryono hanya berdasar foto di koran. Kerumitan bertambah karena tidak satupun tim PNPM-Perdesaan Jateng yang kenal atau pernah bertemu Haryono.  Maka kala Polisi meminta jaminan kebenaran tersangka, Tim Jateng kelimpungan.
Proses di Kalteng juga tidak sederhana ternyata. Jika harus mengirim orang  ke Jateng untuk menjamin dalam penangkapan, biaya menjadi kendala. Untungnya PMD Kalteng memberikan bantuan. Pada 2 Februari 2011, Susilo (FMS Kalteng) berangkat ke Jateng membawa pengantar dari Polres Murung Raya, Kalimantan Tengah untuk mohon bantuan Polres Demak.

Skenario penangkapan dibuat. Bersama Jumiati (SP2M Jateng), Susilo melakukan pengintaian. Bak detektif mereka memantau keseharian Haryono. Pada 3 Februari 2011, SP2M Jateng dan Spesiali FMS Kalteng itu berangkat ke Winong, Pati untuk mendapatkan data tambahan menguatkan penangkapan tersangka. Malamnya, Haryono pun ditangkap.  

Rohmat Puji P/HLW

home gallery profile portfolio gallery home
TNP2K KEMENKOKESRA BAPPENAS KEMENKEU KEMENDAGRI WORLD BANK






Konsultan Manajemen Nasional Komp. Bungur Indah No.1, Jl. Bungur, Kemang Utara Jakarta 12730
Copyright 2012 pnpm-pedesaan.or.id. All rights reserved.