Air Bersih dan Jamban Keluarga
Posting : 12 October 2010      Pengunjung : 2891

Keberlanjutan manfaat hasil pembangunan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sarana prasarana yang dibangun merupakan salah satu upaya PNPM-Perdesaan mewujudkan kemandirian masyarakat perdesaan. Melalui program pembangunan yang direncanakan, dilaksanakan, dan diawasi oleh masyarakat ini, warga dapat melestarikan kegiatan dan bahkan melahirkan inovasi sehingga memunculkan kegiatan pengembangannya yang bermanfaat terutama bagi masyarakat miskin.

Desa Sarasedu, salah satu desa di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Berpuluh tahun, warga Dusun Watumanu di Desa Sarasedu kesulitan air bersih. Kondisi ini setiap hari dihadapi oleh kaum perempuan desa, untuk memenuhi kebutuhan air bersih tersebut, mereka harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar satu kilometer ke sumber air terdekat melewati perbukitan yang terjal. Terkadang dipertengahan jalan pulang, mereka istirahat sejenak melepas lelah, akibat beratnya jerigen air yang mereka pikul.
Ketika Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sekarang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan, hadir di Kecamatan Golewa pada 2003, masyarakat Desa Sarasedu terutama kaum perempuan menaruh harapan besar agar usulan sarana air bersih yang mereka prioritaskan dapat didanai program.  

Di Desa Sarasedu, sebelum usulan tersebut ditetapkan menjadi salah satu usulan dari 3 usulan desa yang akan diajukan ke Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas,  terjadi perdebatan alot pada saat musyawarah perencanaan desa. Dalam musyawarah tersebut, kaum perempuan Dusun Watumanu gigih mempertahankan usulan tersebut untuk menjadi prioritas desa, namun tidak demikian halnya bagi kaum laki-laki di desa tersebut, mereka lebih mementingkan jalan desa. "Setiap hari kami yang merasakan kesulitan memperoleh air bersih, pagi-pagi sekali kami sudah berjalan ke  sumber air, mengambil air untuk minum dan memasak di rumah", jelas Yustina salah seorang ibu dari Dusun Watumanu. Ternyata kaum perempuan Dusun Watumanu tidak berjuang sendirian, mereka didukung oleh sebagian besar kaum perempuan desa yang hadir pada musyawarah tersebut. "Ya, kami juga merasakan (kesulitan air bersih), makanya kami turut mengupayakannya", ujar  Karia salah seorang ibu yang hadir saat musyawarah tersebut. Alhasil usulan mereka menjadi salah satu dari 3 usulan desa yang diajukan pada Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas di kecamatan.

Perjuangan dan penantian masyarakat Desa Sarasedu tidak sia-sia. Harapan mereka menjadi kenyataan, saat MAD Prioritas di kecamatan forum menetapkan usulan sarana air bersih tersebut didanai program sebesar Rp.58juta. Mereka berbahagia.

Antusias masyarakat Desa Sarasedu terlihat dari penyelesaian pekerjaan sarana air bersih tepat waktu. Mereka bekerja bahu membahu. Dari dana program ditambah sejumlah swadaya masyarakat dibangun 1 unit bangunan penangkap mata air (brontchaptering ), bak penampung, 5 hidran umum dan 4 tugu kran, dengan panjang  jaringan perpipaan 1.050 meter. Sarana air bersih ini melayani 45 rumah tangga atau sekitar 225 jiwa.

Penyediaan sarana air bersih berbasis kebutuhan masyarakat ini, telah memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih yang layak. Hingga saat ini sarana air bersih yang dibangun 7 tahun lalu itu, masih berfungsi dan terawat  dan bahkan telah dikembangkan dengan menambah 4 hidran umum baru.  

Bagaimana masyarakat memeliharanya?  
Sarana air bersih Desa Sarasedu merupakan jawaban atas masalah bersama terhadap kesulitan air bersih yang dirasakan masyarakat selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, keberadaan sarana air bersih ini sangat didambakan dan menjadi motivasi bagi setiap warga untuk peduli terhadap pelestarian sarana yang mereka bangun. Kepedulian masyarakat tersebut diwujudkan dalam pengelolaan sarana air bersih yang diorganisir dengan baik melalui Tim Pemelihara dan Pengelola Prasarana (TP3). Dalam struktur organisasi TP3, ada penasehat, ketua, sekretaris, dan bendahara. Untuk teknis operasional dibantu oleh seksi teknik, seksi usaha dana dan perencanaan.

Disetiap hidran umum yang melayani 3 - 5 Rumah Tangga Miskin (RTM) ada 2 orang pengurus yang membantu memelihara dan memantaunya secara rutin. Sebelum melaksanakan tugasnya, TP3 memperoleh pelatihan pembekalan dari fasilitator teknis. "Kami diberi pelatihan oleh FT tentang teknis pemeliharaan dan pergantian alat jika terjadi kerusakan", ujar Romi salah seorang anggota  seksi teknis.

Melalui musyawarah desa, masyarakat menyepakati iuran bagi pemanfaat air bersih sebesar Rp.250perjiwa/bulan, yang dikumpulkan oleh seksi usaha dan dana. Pemanfaatan iuran juga disepakati melalui musyawarah desa dan sudah beberapakali digunakan untuk mengganti kran air yang rusak.

  Pada 2006 yang lalu dalam suatu musyawarah desa, masyarakat menyepakati untuk memanfaatkan sebagian iuran air bersih yang terkumpul ditambah dengan swadaya masyarakat, digunakan untuk peningkatan kesehatan lingkungan. Bentuk kegiatannya adalah penyediaan jamban keluarga bagi RTM. Tahap pertama telah disediakan 20 kloset jongkok, 40 zak semen dan 40 batang besi beton untuk pembangunan 20 unit jamban bagi 20 RTM. Penerima bantuan ditentukan secara partisipatif melalui musyawarah desa. Agar kegiatan ini tetap berkelanjutan maka pengadaan jamban keluarga ini dilakukan dengan cara bergulir. Caranya RTM yang menerima bantuan jamban keluarga membayarnya dengan cara mencicil kepada TP3. Setelah dana cicilan terkumpul, TP3 kembali menyediakan material dan menggulirkannya pada RTM yang belum menerima bantuan. Sejauh ini guliran pertama sudah digunakan oleh 5 RTM.

Bagi masyarakat Desa Sarasedu kehadiran PNPM-Perdesaan mempunyai arti tersendiri, selain membantu dalam penyediaan sarana air besih, mereka juga mampu mengatasi persoalan lain dengan mengembangkan kegiatan pendukung untuk meningkatkan kesehatan lingkungan di desa mereka melalui penyediaan jamban keluarga. Sebuah inisiatif lokal dalam menyelesaikan persoalan masyarakat yang layak dijadikan pembelajaran. (hs)

(sumber: Paulus Reng, FT Golewa, Ngada, NTT)

Berita Terkait


  • Gadis Binatu dari Desa Cot Sayun [...]
  • Abon Ikan Tuna “Wanita Mandiri” Tembus Swalayan [...]
  • Listrik Desa Mengalir Dana pun Bergulir [...]
  • SPP Tersalur, Kelompok Perempuanpun Ikut Makmur [...]
  • Larisnya Dagangan Mak Een [...]

home gallery profile portfolio gallery home
TNP2K KEMENKOKESRA BAPPENAS KEMENKEU KEMENDAGRI WORLD BANK






Konsultan Manajemen Nasional Komp. Bungur Indah No.1, Jl. Bungur, Kemang Utara Jakarta 12730
Copyright 2012 © pnpm-pedesaan.or.id. All rights reserved.